Sabtu, 16 November 2019

"IF YOU "
From Aksa to Ana :
Kamu mungkin gak akan pernah percaya lagi sama aku, tapi demi Tuhan aku kangen banget na, Aku minta maaf, aku menyesal dan aku sayang kamu.

Dia pergi
Dan aku tidak bisa melakukan apapun
Cinta pergi
Seperti orang bodoh, aku dengan hampa berdiri di sini

Aku menatapnya, semakin menjauh
Dia menjadi sebuah titik kecil dan kemudian menghilang
Akankah ini menghilang setelah berjalannya waktu?
Aku mengingat masa lalu
Aku mengingatmu

"Hai" sapaan ramah itu menguar mencoba mencairkan suasana yang tampak tegang. Si lelaki tersenyum sembari mengangkat tangannya, sedangkan si gadis masih berwajah datar dan duduk di bangku berhadapan dengan pria itu.

"Gimana kabar kamu na?" Masih tak luntur dari wajah tampannya, senyum itu justru semakin mengembang, ia nampak berseri di tunjang penampilan casual yang memanjakan mata dan semakin menyempurnakan dirinya. tak ayal sedari tadi setidaknya satu lirikan mata dilanjut bisikan terkait dirinya terus bersahut, meski di akhiri decakan begitu melihat seorang gadis cantik menghampiri, mereka iri namun tak bisa menampik keduanya terlihat begitu luar biasa jika bersama, meskipun gadis itu hanya memakai kemeja dan jeans tampilan khas mahasiswa.

Gadis itu menyimpan tote bag hasil berburu diskon tanggal cantik dari sebuah e-commerce dan memastikan seluruh bawaannya aman tak ada yang bercecer, apalagi flashdisk yang memuat file skripsi yang baru di revisi dan belum sempat ia perbanyak. pernah dengar wanita memerlukan dua singgasana? Satu untuk dirinya satu lagi tentu saja tas berharga mereka.

"Baik" jawabnya singkat, matanya berkeliling dan secara tak langsung menangkap basah lirikan nakal yang tertuju pada keduanya, ahhh sudah biasa memang begini jika pergi bersama seorang Axel Hadi Aksara,perhatian kecil bukanlah kelasnya. Ia sebenarnya tak suka, meski terselip rasa bangga. Dari semua wanita yang hanya bisa memujanya diam-diam dan mengharap dalam mimpi, dirinya bisa dengan mudah menunjukkan siapa ratu yang sesungguhnya, seorang yang dipuja sang raja berkuasa dan bertahta. Hanya saja dari berbagai kisah nyata penguasa selalu di kelilingi banyak selir dengan mulut bisa, dan itu alasan utama ia enggan dan membenci Aksa, sama seperti wanita pada umumnya ia tak ingin miliknya menjadi angan yang lain.

Oh astaga kapan Aksa pernah benar-benar menjadi "miliknya"? apakah hubungan yang di kelilingi banyak hati masih di sebut cinta? Bahkan ia sering merasa hanya dirinya yang berlari dan menggenggam tangan untuk menarik dari segala rintangan,sedangkan si raja itu hanya diam menikmati semua godaan.

"Kakak gimana?" Tanyanya balik,ia menyesap sedikit matcha latte yang telah tersedia,bagus setidaknya Aksa masih mengingat minuman favoritnya. Serafina Analice, Si gadis cantik dengan mata bulat dan bibir penuh itu masih enggan melihat kearah Aksa, ini membingungkan, tak munafik setengah hatinya begitu merindu namun logika tetap bekerja untuk mengingat rasa sakit yang masih bersarang di nurani. Maka kali ini jendela menjadi pelampiasan, melihat banyak kendaraan berlalu lalang dengan udara di Kota Bandung yang terkenal sejuk pun kini berubah semakin menjadi, begitu panas dan berdebu. meskipun saat ini ia terlindung oleh kokohnya bangunan cafe dan AC yang sejuk.

Pikirannya berkelana entah kemana, mengabsen berbagai kemungkinan jika ia tak disini apakah akan menjadi lebih baik? Dan ia bersyukur memilih tak terpaku pada si lawan bicara, setidaknya dengan mengalihkan pandangan ia tak perlu terbuai dengan paras dewa yang sanggup menggoda dari pertama bertemu, sekaligus menjadi penjelasan bahwa ia tak sepenuhnya rela berada di tempat yang sama dengan seseorang yang katanya telah usai dari salah satu perjalanan mengejar "mimpi".

Sera menggigit sedotan yang menyebabkan pipi chubby nya bergerak kecil, tampak menggemaskan,bahkan bagi seorang Aksa. Ia terkekeh dan mencabut sedotan malang itu, Sera lantas menoleh tak terima mulutnya hendak melayangkan protes namun tertutup kembali. Ia beralih pada handphone yang langsung di rampas si pemuda, gadis itu berdecak namun Aksa tak peduli. Perlu sedikit cara untuk menjinakkan gadis cantiknya.

IF YOU
IF YOU
Jika tidak terlambat
Tidak bisakah kita kembali bersama-sama?
IF YOU
IF YOU
Jika kamu berjuang sepertiku
Bisakah kita membuat segalanya sedikit lebih mudah?
Aku seharusnya memperlakukanmu lebih baik ketika aku memilikimu

Bagaimana denganmu?
Apakah kamu sungguh baik-baik saja?
Menduga perpisahan kita adalah ketetapan
Aku harus melupakanmu tapi itu tidak mudah

Gadis cantiknya ya? Aksa tersenyum miris, bahkan rasanya begitu kurang ajar saat hatinya sedikit berharap Sera Sudi kembali bersamanya. Ia dan kebodohan adalah hal yang tak dapat terpisah,dan ia menyadari itu dengan baik. Matanya menelisik wajah mempesona di depannya,dan mengingat segala hal yang telah di lakukan wanita kuat itu ia mengumpat, seharusnya ia bisa memperlakukan gadis itu dengan lebih baik. Demi tuhan ia akan berlari dan menjadi pihak yang menjaga jika Analice luar biasanya jika ia menerima dirinya kembali. Namun pertanyaannya hanya satu, memang dia mau?

"Kamu gak berubah" ucapnya, masih teringat kebiasaan yang tadi di tunjukan Sera setiap kali merasa gugup atau banyak pikiran. Aksa bahkan tahu jika Ana -panggilan khusus yang ia beri untuk Sera- menampakan dengan jelas keengganan dan rasa benci yang di tujukan untuknya, tak apa itu wajar. Gadis itu mau menemui nya saja sudah untung, jika dirinya di posisi Sera mungkin ia telah resmi masuk dalam daftar hitam orang yang tak akan dirinya temui sampai mati.

"Masih keliatan bego banget ya?" Tanya Sera sembari tersenyum, Aksa langsung terdiam tak dapat menjawab. Jika ia sudah tak waras ingin rasanya mendekat lalu merengkuh badan kecil itu kedalam dekapannya, memohon ampun atas kebodohan dan kesalahannya selama ini.

Sera terlihat begitu terluka, tentu saja! Kau pikir siapa yang sanggup menghadapi kenyataan seberapa rusak lelaki yang ia begitu percaya dulu, seseorang yang begitu ia sayang, lelaki yang memenangkan hatinya dengan mudah tanpa perlu khawatir tersaingi maupun berpaling, dan dengan bodohnya ia mengabaikan itu semua. Sebenarnya apa yang dia perbuat selama ini? Apa yang ia kejar sampai harus melepas gadis tulusnya? Aksa bahkan merasa bersyukur Sera bisa sadar dan kembali menjalani hari dengan ceria.

"Maaf..aku salah, gak seharusnya aku..."
"Gak apa kak" potong Sera, ia kembali menyedot minuman di depannya dan perasaan risih itu kembali datang, Sera tak suka basa-basi ditambah ia benar-benar ingin segera pergi. Memangnya semeja dengan mantan yang paling menyakitkan itu enak?
Meskipun banyak orang yang berkata kita jika rasa sakit itu masih terasa sebenarnya cinta pun masih ada, dan ucapan itu benar. Maka dari itu Sera ingin segera pergi agar bisa melupakan sampai terbiasa saat bertegur sapa.

Aksa kembali bungkam, matanya nampak sayu disusul kedipan yang menunjukkan penyesalan. Tapi masa bodoh Sera tak peduli dan Aksa tahu itu.
"I miss you" akhirnya dengan segala keberanian kata laknat itu terdengar dengar lirih, persetan jika ia terlihat bagai orang dungu yang tak tahu malu. Dua tahun tanpa bersua dan mengetahui kabar hanya bermodal media sosial anonim yang ia buat karena Sera memblokir seluruh kontaknya ternyata tak cukup meredam kata kurang ajar itu. Nyatanya ia masih banyak rasa rindu yang tak bisa di bendung,begitu membuncah sesak yang ia sebabkan sendiri, rasa bersalah dan keinginan berjumpa.

Aksa ingin kembali merebut seluruh atensi Sera, ingin semua kata manis yang hanya untuknya, mau sentuhan lembut dari lengan mungil yang begitu pas ia genggam, semuanya terasa begitu membekas dan jelas begitupun dengan bagaimana jeritan Sera yang meminta penjelasan, bagaimana tangis pilu yang menyayat pecah terus bertanya kenapa? Karena selama ini tak ada yang salah, ya memang tak ada. kecuali dirinya.

"Hah?" Gadis itu tampak terkejut matanya membulat, bukan konteks sebenarnya saat ini ia hanya ingin menampilkan wajah mencemooh bagaimana lelaki ini begitu berani.
Sera menyunggingkan smirk, menakjubkan sekaligus menakutkan. Oh sepertinya Aksa melupakan sisi gadisnya yang ini, sedari tadi ia terus mengoceh tentang luka dan rapuh mulai lupa jika yang membuat Sera tanpa sadar mengacak seluruh tujuan awalnya adalah bagian berbahaya yang ia punya,  Intimidasi dan kemampuan berkuasa secara alami. Topeng baja -Aksa menyebutnya begitu- perisai yang penghalau rasa sakit yang sering ia gunakan demi menyingkirkan seseorang yang berpotensi menyakiti dirinya, sekaligus senjata yang membuat sasaran terlihat tak bernilai maupun memiliki makna.

Sera lantas tertawa puas,mengabaikan lirikan mata beberapa pengunjung yang beragam ada yang penasaran atau menatapnya aneh, tapi demi tuhan dia tak peduli. oh Lihatlah saat ini seorang Aksara tampak seperti orang dungu sungguhan, persis seperti komedian yang menggelar pertunjukan sukses. ia berhenti tertawa, ekspresi gadis itu berubah menjadi kelam tak terbaca dan cukup menakutkan bahkan untuk lelaki di depannya ini.

"Mabok ya?" Tanyanya sinis, Aksa hanya terdiam tak menjawab membiarkan gadis itu mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. "Emang kemana Si Yuna kesayangan elo itu?! Atau Lo beneran ngira gue sebego itu ya? bangsat!!" Lanjutnya tak lagi memikirkan tentang sopan santun atau embel-embel Kakak yang harus ia sematkan pada nama Aksa. Dada Sera naik turun karena nafas yang teratur dan emosi yang membuncah meskipun seluruh perkataanya diucapkan dengan pelan.

Sera memang bukan sosok peri yang akan memaafkan atau pura-pura terlihat baik-baik agar dianggap keren. Ia lebih suka membeberkan segala tanpa ditutupi, Biarkan saja, manusia baru bisa memperbaiki kesalahan jika dirinya tahu dimana letaknya. Karena Sera tak Sudi pada seseorang yang hanya meminta maaf tapi tak tahu untuk apa.

Pada hari di mana hujan gerimis turun seperti hari ini
Aku mengingat bayanganmu

Kenangan kita yang diam-diam kumasukkan ke dalam laciku
Aku mengambilnya dan bernostalgia lagi sendirian

Mengapa aku tidak tahu
Tentang beratnya kesedihan yang datang bersama perpisahan?

JIKA KAMU
JIKA KAMU
Jika tidak terlambat
Tidak bisakah kita kembali bersama-sama?

Waktu menunjukan pukul lima dan rintik hujan mulai turun mencoba menggeser panas yang sedari tadi menguasai kota, gemuruh Guntur terdengar bersahutan dari langit menandakan hujan akan turun dalam waktu lama dan kemungkinan sampai malam. Orang-orang yang sedari tadi berlalu lalang kini menepi, dengan segera melindungi diri dari basah dan mulai mencari sumber kehangatan dan kenyamanan, hujan kali ini cukup mendadak namun tak ada satu pun yang protes, sudah delapan bulan kemarau berlangsung menyebabkan polusi semakin meningkat dan air yang semakin sulit begitu juga dengan tanaman yang kering, hujan kali ini menjadi anugerah dan awal musim serta jawaban dari do'a.

Banyak pujangga yang mengaitkan hujan dengan romansa dan gulana asmara bukan tanpa alasan,hawa dingin dan gelap karena awan mendung sedikitnya memang mengambil andil menaikan emosi manusia ke arah sendu. Kenangan tanpa dipaksa dan diminta hadir bersamaan berbalut bau petrichor yang menguar dari tanah yang basah. Secangkir kopi hangat bahkan tak mampu menghalau hal itu, setidaknya begitu Aksa yang rasa, sedari tadi ia hanya berdiri di depan jendela apartemen yang terbuka dengan suasana sunyi,sengaja tak menyalakan lampu meski senja datang dan matahari mulai meninggalkan sinarnya. Mencoba menghukum diri sendiri begitu pikirnya.

Ia menutup mata dengan alis berkerut tak nyaman, suara dari masa lalu mulai berteriak menghakimi dirinya. Perlahan matanya terbuka Aksa mendongakkan kepala mencoba menahan laju air mata yang berlomba turun, ia mengabaikan hawa dingin yang mulai menyapa kulit pualam yang hanya berbalut kemeja tipis dengan celana kain yang tampak acak-acakan.

"Kak gak ada yang ketinggalan kan?"
"Gak ada sayang tadi aku udah cek sama mamah juga." Gadis itu mengangguk mengerti,senyum yang selalu mengembang kini tak terlihat di ganti wajah memelasnya,Aksa masih membelakangi Sera sampai ia rasakan dekapan hangat menyelimuti punggungnya.
"Kak masukin aku ke koper juga dong" Aksa terkekeh,lalu berbalik dan mencium gemas bibir yang mengerucut itu.

Aksa menunduk dan saat itu pula semua tangis yang ia tahan tumpah,demi tuhan ia rindu gadis kecilnya, ia rindu Sera yang tampak malu-malu jika bertemu dengannya,rindu penyemangat yang selalu ada disampingnya, rindu pada senyum manis yang selalu menghiasi hari dan tatapan polos yang hanya ia miliki sendiri.
"Kenapa gue bisa sebego itu ya tuhan."
"Aksa goblok, lu anjing, brengsek, bajingan! Ana gak pantes buat lu anjing!" Lirihnya sembari menutup wajah dengan kedua tangannya, ia pikir dua tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubur segalanya. Namun semuanya salah, rasanya Tuhan pun tak puas sebelum mengutuk manusia sepertinya, tawa tak berdosa Sera terus terdengar dan rengekan manja itu tanpa sadar telah menjadi candu dan Aksa butuh Sera saat ini,setiap waktu.

"MAKSUDNYA APA INI?!!!!" Sera menjerit sembari melempar handphone yang telah retak, wajah nya memerah menandakan emosi yang memuncak. Air mata tak kunjung reda dari pipi chubby nya,tatapan matanya terluka dan seakan tak percaya,nafasnya putus-putus karena terlalu lama menangis di susul tenaga yang mulai menipis.
Siapa yang tak sakit saat kita tengah menunggu orang tersayang sembari menahan rindu justru di beri "hadiah" berupa video dengan pemeran utama si objek yang tengah berciuman panas dengan gadis lain ditemani ucapan cinta bagai pasangan yang tengah di mabuk asmara, begitu terdengar menjijikan untuknya.
Aksa yang baru sampai di apartemen mengepalkan tangan hingga kuku jarinya memutih, ia sama terkejutnya mendapati Sera yang menatap nyalang apalagi mendengar isakan pilu gadis di depannya "AKU SALAH APA SIH KAKKKKKKK!!!" Gadis itu menepuk dadanya yang sesak dengan kaki yang tak dapat menopang tubuhnya lagi, semua tenaganya seperti hilang.
"Bilang! BILANG GUE SALAH APA AKSARA!" Dan dirinya hanya bisa diam tak bisa menjawab,karena apa yang Sera lihat adalah kebenaran.

"AAARRRRRRRGGGGGGGHHHHHHHHHHHHH ANJINGGGGGGGGGGGGGG SETAAANNNNNNN" Aksa berteriak sembari membanting gelas kopi yang berada di depannya yang langsung tergerai dengan isi yang mengotori lantai marmernya.
"Na maaf"
"Ana aku sayang kamu"
"Naaa"
Dan saat ini Aksa berada di titik terlemah nya, orang yang mengenalnya sebagai Aksa yang si dokter tampan yang santun dan mengedepankan penampilan mungkin akan terkejut melihat bagaimana menyedihkan dirinya saat ini.

"Jadi Lo ngajak gue ketemu cuma buat ngomong hal gak penting kayak gini doang? Denger ya gue juga punya kesibukan yang lebih penting dari pada dengerin ocehan fuck boy kayak lo anjing." Mata Sera menyalang ketika mengatakan hal itu, tapi dengan jelas Aksa dapat merasakan rindu di tengah kebencian dan sakit yang ia utarakan, atau mungkin dia sudah mulai gila sekarang?  Ahhh tidak bukan hanya sekarang, tepatnya Aksa memang menjadi tak waras sejak Sera memilih pergi dari hidupnya.
Merasa pertemuan ini sia-sia gadis itu langsung melangkah pergi, menghempaskan tangan Aksa yang memohon memintanya tetap tinggal sampai tamparan gadis itu terdengar begitu nyaring dan mendarat tepat di pipinya.

Baju yang jauh dari kata rapih, mata sembab dan umpatan yang terus terdengar di iringi ratapan penyesalan begitu menyakitkan. Aksa terduduk dan menenggelamkan kepalanya diantar dua lutut, kepalanya pusing bukan main. Tapi bayangan Sera seakan terus menuntut nya untuk tetap tersadar, demi tuhan ia ingin Analice nya kembali.

Tangannya merayap membuka laci yang berisi beberapa lembar foto lama,kumpulan foto Sera yang ia ambil secara diam-diam saat ospek dulu ada pula foto keduanya yang tersenyum lebar saat Sera dengan gugup mendatanginya dan meminta foto bersama, Aksa tersenyum dan mengelus lembaran itu dengan sayang setidaknya memenuhi seluruh dinding apartemen dengan gambar yang menunjukkan berbagai ekspresi gadis itu membuatnya sedikit merasa kehadiran Sera disini. Tawa nya yang manis dan ucapan bahwa Aksa selalu menjadi yang utama dan satu-satunya begitu terngiang, bahkan gadis itu menjadikan Aksa orang pertama yang dapat menyentuh dirinya. Maka kini makian untuk diri sendiri terus lelaki itu ucapkan, Ternyata rasa sakit setelah perpisahan itu begitu dalam dan separah ini.
---------
Sera menendang kerikil kecil yang ada di hadapannya ia menggerutu ditemani dengan perutnya yang sesekali berbunyi. Ia kesal bukan main,dan menyalahkan dirinya yang tak bisa mengontrol emosi sehingga kesempatan makan gratis dan enak pun melayang, hhhh pasti gara-gara datang bulan dan skripsi yang menguras seluruh kesabarannya. Cih jika tahu begini ia lebih baik tak datang dan memilih rebahan di kamar kost tercinta sembari menonton drama bersama rose dan Bianca.

"Goblok sih lu Ra kan Mayan bisa makan enak tadi huhuhu harga diri lebih dari perut? Makan tuh harga diri!" Gerutuan Sera lantas terhenti begitu melihat seorang lelaki yang berdiri di depan pintu kost nya, ia masih canggung harus bertemu lelaki yang kini tengah mengenakan kemeja biru Dongker bergaris dan celana kain berwarna hitam itu. Meskipun Sera tahu alasan Zio -lelaki itu- pasti datang untuk menemui Bianca, bisa Sera lihat wajah nya tampak lelah seperti orang sudah lama menunggu seseorang, dan hal itu membuat Sera bingung, kenapa Zio tak langsung masuk dan justru malah berdiri di depan gerbang seperti orang linglung dan kebingungan begitu?

Menyadari ada orang lain wajah Zio terangkat dan menemukan Sera yang membeku tak tahu harus bersikap seperti apa, senyum Zio seketika terbit ia pun kemudian menghampiri Sera yang tengah menunduk dan mengulum bibir nya canggung. Melihat itu rasanya ia ingin menggigit pipi tembam Sera yang mengundang untuk di kunyah atau mengurung si gadis seharian di apartemen, tak rela lelaki lain bisa melihat wajah cantik dengan kelakuan ajaibnya itu.
"H..hai kak" Sapanya, Sera tersenyum lebar mencoba santai walau terlihat jelas itu di paksakan.
"Hai" jawab Zio, ia tak ingin gadis ini semakin canggung dan justru kabur dari hadapannya.
"Kok di luar? Ayo masuk! Bianca pasti udah nunggu."
"Kamu udah makan?"
"Hah?" Sera mengerjapkan matanya, orang-orang hari ini kenapa sih? Rasanya senang sekali mengejutkan dirinya. Dari sok akrab sampai bertingkah biasa saja seolah tak ada yang terjadi, atau memang dia yang sebenarnya terlalu baper?
Zio sekarang tak bisa lagi menahan tawanya, wajah Sera begitu lucu dan cocok dijadikan Meme. Hari ini ia terlalu senang dan ia akan membaginya pada si alasan utama.
"Makan bareng yuk!!" Ajaknya semangat, ditambah ia mendengar gerutuan keras Sera yang berkata lapar dan hampir mengorbankan harga diri demi makanan.
Zio menarik lembut tangan Sera yang langsung gadis itu tahan, "Kak lo kenapa sih?" Sera mengerutkan kening tak mengerti, dia tidak sedang kena prank kan?
"Apanya? Terus itu apaan coba bilang lo gue ganti! gak suka" Tanya balik Zio,tetap kekeuh tak mau melepaskan tangan Sera.
"Sumpah kak jangan bikin gue.."
"Aku!
"Gue gak.."
"Pake aku Serafina Analice"
"Oke aku! Puas? Kakak lupa apa kita udah selesai?" Zio memutarkan matanya malas mendengar pertanyaan Sera, kenapa nih cewek gak hilang ingatan selektif aja sih? Lupa gitu kalau ada perjanjian setan yang membuat keduanya tak bisa bersama lagi.
"Inget" jawabnya malas, sumpah Zio hanya ingin mengajak Sera makan siang bersama bukan berdebat di pinggir jalan seperti ini!
"Ya terus itu ngapain?"
"Apa?"
"ITUUU" jawabnya sembari melirik tangannya kode meminta untuk dilepaskan, Zio ikut melirik sekilas tak acuh membuat Sera membulatkan matanya tak menyangka ia kemudian melotot mengancam agar Zio segera mengikuti perintahnya "OKE!! Enggak nih liat!" Lelaki berkulit Tan itu mengangkat tangan dengan bibir mengerucut sebal.
"Ayo makan Serafinaaaaaa"
"Kak...kita udah selesai inget?"
"Anjirlah kenapa ngomong itu Mulu sih? Iya iya inget CK bawel banget sih!"
"Sialan malah ngatain gue bawel segala lo Saepudin!"
"Aku bukan Si Saepudin lagi, inget?" Ledek Zio mengikuti cara bicara Sera yang langsung membuat gadis itu membeku.
ucapan Zio memang kenyataan,tapi mendengar itu secara langsung tak Sera kira cukup sakit juga ternyata,apa ini berarti Zio akan tetap setia pada Bianca? Berarti itu hal bagus, dan bukankah seharusnya Sera ikut senang buka malah merasa terluka seperti korban begini.
"Ya terus kenapa ngajak bareng?" Cicitnya pelan,membuat Zio menghela nafas lelah.
"Emang dari dulu enggak? Kalau temen gak boleh ngajak makan bareng?"
"Enggak sih, tapi Bi.."
"Gak sayang.."
"KAK!"
"Maaf ya ampun kebiasaan, ayo ikut ya?? Dia gak bisa katanya lagi ada tugas, rose juga katanya belum beres bikin laporan individu atau apalah itu. Dan Toni Dateng kangen Kakak Sera katanya." Jelas Zio langsung membuat mata Sera berbinar mendengar nama Tony, ponakan Zio yang baru berusia 5 tahun itu sangat lucu. Padahal Sera tak terlalu suka anak kecil tapi dengan anak itu Sera bisa mudah akrab apalagi Toni yang sering bekerjasama dengannya membuat Zio sengsara.
"Jelasin dari tadi dong kak! Belibet banget sih ngomongnya!"
"Heuhhh berani ya bocah sini Lo!"
"Tuhkan sendirinya juga gue elo!"
"Gak tahu ah! Ayo sini Sera kuuuu"
"Najis alay banget"
"Tapi kamu suka"
"GAK!"
Dan adu mulut itu masih terus terdengar sampai keduanya masuk kedalam mobil lalu meninggalkan tempat Kost Sera dengan Bianca yang memperhatikan dari jendela.

Senin, 11 November 2019

THE KING


Cast : 
Oh Sehun (Sehun EXO)
Lalisa Manoban (Lisa Blackpink)
Hwang Minhyun (Minhyun Nu'est)



"Kenapa sih Lo harus pacaran sama dia?"
Lisa menghela nafas lalu berbalik melihat lelaki di hadapannya.
"Karena minhyun sempurna" jawab Lisa asal,gadis itu kemudian mengambil handphone miliknya dan mulai membalas pesan dari kekasihnya.
"Buat pajangan?" Lisa mendengar kekehan meremehkan dari Sehun,lelaki yang kini ada di sampingnya itu semakin mendekat ke arah lisa

"Gak usah ngawur deh kak,lagian mau gue jadian ama dia karena apapun gak ada hubungannya sama elo" sahut Lisa jengah,mulai muak dengan tingkah sok tahu senior satu tingkatnya di kampus itu.
"Oh really? Gue cuma penasaran aja apa yang bikin lo mau pacaran sama dia. kalau dari tampilan, gue juga gak kalah ganteng,kaya, keren dan bisa bikin mommy Daddy lo terpukau pastinya."
"Kak mending lo diem, atau tinggalin gue sendiri"
" Ahh little princess marah,sorry kalau lo gak suka gue ngomongin si pangeran kecil itu,tapi pertanyaan gue belum Lo jawab Lalisa" desak Sehun,lelaki itu masih tersenyum tapi Lisa telah mengenalnya sedari sekolah menengah atas tentu tahu makna dari tatapan tajam dihadapannya.

"Gue sayang dia,ah enggak gue cinta dia. Minhyun gambaran pasangan yang gue cari selama ini" jawab Lisa sembari membalas tatapan tajam Sehun,harus seperti itu jika ingin meyakinkan seorang Oh Sehun.
Mereka bertatapan cukup lama membuat Lisa berpikir lelaki di depannya ini puas dengan jawabannya,sayangnya itu hanya berlangsung beberapa detik sampai Sehun justru terkekeh lalu tertawa seolah jawaban Lisa adalah hal yang amat lucu.

"Hahahaha astaga Lisa" Sehun menyeringai gak dan mencebik melede. "Gue gak sangka ternyata lo senaif ini. Lo masih ngarep pangeran berkuda putih hmm?" Lisa terkesiap saat dengan cepat Sehun beralih keatas tubuhnya dan mendekatkan bibirnya sejajar dengan telinga Lisa.
"Lo gak cinta dia princess,kalau lo beneran sayang sama dia lo gak bakal mungkin ada di sini sama gue" Lisa mengerjap,hal yang paling ia takuti dari Sehun adalah aura dingin dan mengintimidasi miliknya,belum lagi perubahan ekspresi lelaki itu begitu cepat dan tak terduga.

"Kenapa harus milih pangeran kalau ada raja disisi lo" jantung Lisa berdegup dengan kencang aliran darah seolah memompa lebih cepat, tepat setelah perkataannya Sehun menggigit cuping telinganya salah satu bagian sensitif tubuh Lisa.
Sebelum sempat melayangkan protes bibir Lisa terlebih dahulu di bungkam oleh bibir tipis Sehun sembari menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Kembali menuju puncak kepuasan mengabaikan dering telpon Lisa dari minhyun 
Pangerannya.

Senin, 04 November 2019

YOUR HEART




Cast : 
Kim Taehyung (V BTS)
Lalisa Manoban (Lisa Blackpink)
Oh Sehun (Sehun EXO)



Kata orang bagian paling sulit dari jatuh cinta sendirian adalah merelakan, semua pelakunya perlu kesadaran bahwa perasaannya tak terbalas. Lisa mungkin salah satu pemain lama,termasuk yang tahan banting masih kekeuh pada hubungan semu yang penuh delusi itu selama tiga tahun. Penikmat sakit dan rindu yang dibuat olehnya sendiri,dan merasakan lepas dari sosok yang terlalu di kagumi itu sulit.

Yah memang sangat amat sulit namun bukan berarti tak mungkin. Nyatanya kini Lisa tak susah menerima kehadiran orang lain yang mencoba memasuki hati nya dengan kerja keras, ia tak sanggup menolak pemuda yang begitu kekeuh ingin terus berada disamping seseorang yang amat keras kepala sepertinya.

Apalagi belaian tulus dan dekapan hangat yang selama ini tak pernah ia terima kini di dapatkam dengan cuma-cuma. Pemandangan wajah tampan yang hanya untuknya, perasaan utuh dan rasa bangga yang ditujukan untuk dirinya meski tak tahu kenapa. 

Lisa tak terlalu cantik jika di banding gadis Korea lain, setidaknya itu yang dirinya tahu. Sampai lelaki yang memeluknya dari belakang membantah itu semua,bagi Kim Taehyung -kekasihnya- Lisa adalah jelmaan Barbie hidup yang terlalu merendah. Meskipun ia suka kenyataan si cantik yang selalu memperlakukan semua orang dengan sesuai,membuat Taehyung tak memiliki alasan gila untuk meninggalkannya.

Hanya saja sepercaya diri apapun seorang Kim Taehyung, tersemat rasa kecil saat Lisa mengingat masa lalunya. Hatinya tercubit saat dengan jelas raut wajah itu berubah kala mendengar nama itu. Tapi sekali lagi dalam hubungan bukankah perlu adanya saling percaya? Dan ia harus percaya pada Lisa yang tengah berusaha menerimanya secara utuh.

Keyakinan Taehyung memang kuat, sayangnya itu berbanding lurus dengan ketakutannya. Dibalik senyum lebar dan rasa percaya diri yang tengah ia tampilkan hatinya bertalu keras,saat tangan yang tengah ia ulurkan dibalut rasa was-was yang begitu menguasainya. Dekapan pada Lisa semakin ia pererat untuk mencari kekuatan, hatinya mulai hancur begitu melihat raut tak terbaca Lisa pada sosok yang menyambut uluran tangannya dengan wajah datar khasnya.

"Oh Sehun" dan pemilik nama yang sungguh tak ingin ia temui kini berdiri dengan tegap dihadapan keduanya,dan Taehyung jelas tahu saat sorot mata mereka berdua sama. Tatapan terluka yang begitu ia hapal karena saat ini pun ia tengah merasakannya.